Kecerdikan Sebagai Representasi Kritik Sosial Dalam Folklore Lisan: Analisis Kisah Abu Nawas
Keywords:
folklor lisan, abu nawas, kritik sosial, nilai budaya, pragmatikAbstract
Cerita Abu Nawas merupakan salah satu bentuk folklor lisan yang paling bertahan dan terus berkembang lintas budaya. Meskipun populer, kajian terhadap narasi Abu Nawas masih terbatas dalam mengintegrasikan perspektif struktural, kultural, dan pragmatik. Artikel ini menganalisis narasi Abu Nawas sebagai folklor lisan dengan mensintesis teori folklor, analisis struktural-fungsional, antropologi budaya, dan pendekatan pragmatik. Dengan metode deskriptif kualitatif melalui analisis teks, penelitian ini merujuk pada fungsi folklor menurut James Danandjaja serta konsep kebudayaan Koentjaraningrat. Temuan menunjukkan bahwa cerita Abu Nawas tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai pendidikan moral, aspirasi kolektif, dan kritik sosial yang halus. Secara struktural, cerita ini menampilkan oposisi simbolik antara otoritas dan kecerdikan intelektual, sedangkan secara pragmatik humor dan tindak tutur tidak langsung digunakan untuk menyampaikan kritik tanpa konfrontasi langsung. Hasil penelitian menegaskan bahwa folklor lisan berfungsi sebagai mekanisme budaya yang merefleksikan dan memperkuat nilai-nilai sosial.

