Nilai Moral Dalam Cerita Rakyat Legenda Danau Lipan Dari Kalimantan Timur Dan Kedudukannya Dalam Tradisi Lisan
Keywords:
cerita rakyat lisan, kalimantan timur, legenda danau lipan, nilai moral, tradisi lisanAbstract
Abstrak
Penelitian ini mengkaji nilai moral yang termuat dalam cerita rakyat Legenda Danau Lipan dari Kalimantan Timur sekaligus menelaah posisinya dalam tradisi lisan Nusantara. Pendekatan deskriptif kualitatif diterapkan melalui teknik analisis data model Miles dan Huberman, yang terdiri atas tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan simpulan. Sumber data utama berupa teks cerita versi cetak dalam buku Koleksi Terbaik 100 Plus Dongeng Rakyat Nusantara karya Margaretha (Widi Yuliani, 2018), halaman 228–230. Data dikumpulkan melalui teknik baca dan catat, dengan data berupa kutipan teks yang berindikasi nilai moral. Kajian ini bertumpu pada teori fungsi folklor Bascom dan konsep nilai moral dari (Widianti et al., 2017) sebagai kerangka analisis. Hasil penelitian mengidentifikasi tiga nilai moral pokok: (1) nilai moral dalam relasi manusia dengan Tuhan, yang tercermin dari tindakan Putri Aji Bedarah Putih memanjatkan doa pada momen paling kritis; (2) nilai moral dalam relasi antarsesama, yang mencakup penolakan terhadap pemaksaan kehendak, sikap berani, serta kesetiaan para prajurit; dan (3) nilai moral dalam relasi manusia dengan alam, yang diwujudkan melalui transformasi laut menjadi Danau Lipan sebagai dampak langsung dari peperangan. Ketiga nilai tersebut secara bersamaan merealisasikan keempat fungsi folklor Bascom, yaitu sebagai sistem proyeksi, pengesah norma budaya, instrumen pendidikan karakter, dan pengatur perilaku sosial. Temuan ini mengonfirmasi bahwa Legenda Danau Lipan bukan semata warisan budaya lokal, melainkan merupakan bagian tak terpisahkan dari tradisi lisan Nusantara yang menyimpan potensi besar sebagai wahana pendidikan karakter.
Kata Kunci: cerita rakyat; Kalimantan Timur; Legenda Danau Lipan; nilai moral; tradisi lisan
Abstract
This study examines the moral values embedded in the folklore of Legenda Danau Lipan from East Kalimantan and investigates its position within the Nusantara oral tradition. A descriptive qualitative approach was applied through Miles and Huberman's data analysis model, encompassing data reduction, data display, and conclusion drawing. The primary data source is the printed version of the folktale in Koleksi Terbaik 100 Plus Dongeng Rakyat Nusantara by Margaretha (Widi Yuliani, 2018), pages 228–230. Data were collected via reading and note-taking techniques, consisting of textual excerpts bearing indicators of moral values. The analytical framework draws upon Bascom's folklore function theory and the moral value framework proposed by (Widianti et al., 2017). Three core moral values were identified: (1) moral values in the human-God relationship, reflected in Princess Aji Bedarah Putih's act of prayer at the most critical juncture; (2) moral values in interpersonal relationships, encompassing resistance to coercion, courage, and the unwavering loyalty of soldiers; and (3) moral values in the human-nature relationship, represented through the transformation of the sea into Danau Lipan as a direct consequence of war. These three values simultaneously enact all four of Bascom's folklore functions: as a projective system, a cultural norm validator, a character education instrument, and a social behavior regulator. These findings confirm that Legenda Danau Lipan is not merely a local cultural heritage but an integral component of the Nusantara oral tradition with significant potential as a medium for character education.
Keywords: East Kalimantan; folklore; Legenda Danau Lipan; moral values; oral tradition

